Mengenal Pembelajaran Kuantum (Quantum learning)
Assalaamu'alaikum Wr. Wb
Halo para cendekiawan, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat ya.
Masih semangat dong, mengikuti diskusi di blog Delajar ini. Setiap minggunya, pembahasan kita semakin seru dan menyenangkan bukan? Jika minggu-minggu yang lalu kita sudah membahas tentang pembelajaran kooperatif, lengkap dengan hakikatnya, manfaat bagi siswa, peran guru hingga contoh modelnya, kali ini kita akan membahas jenis pembelajaran menarik lainnya.
Teman-teman, apa sudah ada yang kenalan dengan pembelajaran kuantum (Quantum learning)? Nah, pembahasan kita pada pertemuan ketiga ini, akan mengupas tentang aspek dan prinsip dalam pembelajaran kuantum. Lalu, apa sih, pembelajaran kuantum itu?
Dikutip dari artikel kajianpustaka.com, secara umum, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai metode pembelajaran yang menyenangkan, dimana guru dan siswa saling berinteraksi dan adanya optimalisasi lingkungan belajar menjadi lebih efektif.
Jenis pembelajaran ini, pertama kali dikembangkan oleh seorang pendidik sekaligus ahli saraf, psikiater dan psikolog asal Bulgaria bernama, George Lozanov. Menurutnya, hasil belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh sugesti yang diterima orang tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran ini sangat memegang prinsip tentang sugesti positif.
Sugesti positif disini, tidak hanya terbatas dengan ucapan atau kata-kata positif saja. Namun, sugesti positif bisa dibentuk dari lingkungan belajar yang nyaman. Ketika siswa sudah ditempatkan di lingkungan yang nyaman untuk belajar, maka sikap, motivasi dan cara pandang siswa akan berubah. Siswa jadi lebih bersemangat untuk belajar dan lebih menghargai proses belajar yang dialaminya.
Lingkungan belajar yang nyaman ini, juga tidak hanya dibatasi dengan lengkapnya fasilitas di sekolah atau rapinya ruang kelas. Namun, guru juga diharapkan mampu memotivasi siswa, memberikan gambaran tentang manfaat pembelajaran yang diperoleh, memfasilitasi kebutuhan siswa selama proses belajar, serta mampu memberikan umpan balik selama proses belajar. Sehingga terjadi interaksi positif dan menyenangkan antara guru dan siswa.
Dengan demikian, pembelajaran ini, setidaknya memiliki 5 prinsip, diantaranya:
1. Interaksi yang bermutu dan bermakna, dimana guru memberikan umpan balik kepada siswa, sehingga siswa dapat mengevaluasi diri dan meningkatkan keterampilannya.
2. Proses pembelajaran berjalan dengan alamiah, maksudnya proses belajar di kelas dilakukan dengan nyaman, santai dan menyenangkan.
3. Proses pembelajaran yang bermakna dan bermutu, dimana guru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang berarti bagi siswa.
4. Membangun nilai positif bagi siswa, maksudnya hasil pembelajaran tidak berpaku pada keberhasilan yang ditunjukkan dengan nilai yang baik. Tetapi, siswa juga mampu meningkatkan kepercayaan diri dan nilai positif dalam dirinya. Sehingga dalam pembelajaran ini tidak diberlakukan hukuman, karena setiap proses pembelajaran menghargai dan mengakui usaha yang dilakukan siswa.
5. Adanya keragaman dalam proses belajar, dimana pembelajaran ini menghargai dan memfasilitasi gaya belajar siswa yang beragam.
Jadi, itu dia sekilas pembahasan tentang pembelajaran kuantum. Intinya, jenis pembelajaran ini mengedepankan sikap positif yang dihasilkan dari proses belajar yang nyaman dan menyenangkan. Pembelajaran ini tidak lagi menempatkan guru sebagai sumber belajar, tetapi lebih menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator. Siswa juga lebih aktif dalam proses pembelajaran. Sehingga, pengalaman dan motivasi belajar siswa semakin meningkat.
Bagaimana teman-teman pembahasan kita kali ini? Kira-kira, teman sekalian setujukah dengan deskripsi tentang pembelajaran kuantum ini?
Berbagi perspektif, yuk, tentang pembelajaran kuantum menurut teman-teman semua.
Sekian dulu, nih, pembahasan kita kali ini. Terima kasih atas perhatiannya, ya.
Sampai berjumpa lagi.
Waassalaamu'alaikum Wr. Wb
Comments
Post a Comment