Desain Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis dalam Bidang Sains
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Halo para cendekiawan, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat dan bersemangat, ya.
Kita kembali lagi di pembahasan model pembelajaran, nih. Sebelumnya kita sudah membahas banyak jenis model pembelajaran ya. Kali ini kita akan membahas tentang desain model pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikir kritis dalam bidang sains.
Apa sih, pembelajaran kolaboratif itu? Dan bagaimana keterampilan berpikir kritis terasah melalui model pembelajaran ini? Yuk, kita simak bersama penjelasannya berikut.
Sesuai arti katanya, kolaboratif berhubungan dengan kerjasama. Model pembelajaran kolaboratif ini memungkinkan siswa untuk saling bertukar pikiran dengan siswa lainnya. Kegiatan pembelajaran ini didesain dalam bentuk metode diskusi. Ketika berdiskusi inilah, siswa mampu mengutarakan ide pikirannya. Sehingga, siswa mampu mengasah keterampilan berpikir kritis.
Sebelum siswa memulai diskusi, guru memiliki peran untuk mendesain model pembelajaran ini. Mulai dari proses menentukan materi yang akan disampaikan hingga mengawasi pelaksanaan diskusi, semuanya harus didesain guru dengan baik dan jelas.
Adapun cara yang bisa dilakukan guru untuk merancang pembelajaran ini diantaranya, sebagai berikut:
1. Menentukan materi pembelajaran: Guru menyiapkan materi pembelajaran yang akan menjadi bahan diskusi siswa di kelas. Sebelum memulai diskusi, guru bisa menjelaskan tentang tujuan atau pencapaian pembelajaran. Untuk meningkatkan proses berpikir siswa, guru juga bisa membawa satu permasalahan yang sesuai dengan materi pembelajaran tersebut.
2. Menyusun kelompok belajar siswa: Kelompok belajar menjadi komponen penting dalam proses desain model pembelajaran ini. Guru dapat mengelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil antara 3-5 siswa. Kelompok ini akan dijadikan wadah bagi siswa untuk saling bertukar pikiran dan melatih keterampilan berpikir kritisnya.
3. Menjelaskan tanggung jawab setiap siswa dalam kelompok: seperti pembahasan sebelumnya, meskipun siswa berada dalam kelompok belajar, tetapi setiap individu tetap memiliki tanggung jawab masing-masing. Sehingga, semua siswa dapat leluasa mengutarakan pendapat dan mengembangkan keterampilan berpikirnya.
4. Mengawasi proses diskusi kelompok: Guru tidak lepas tangan dari proses diskusi siswa. Ketika diskusi berlangsung, guru bisa memperhatikan dan bertanya kepada siswa tentang proses diskusi yang sedang dilakukan.
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyajikan hasil diskusi: setelah diskusi selesai, setiap kelompok mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil diskusi mereka. Sehingga, terciptalah kegiatan diskusi kelas yang membuat siswa terpacu untuk terus bertukar pikiran dan pendapat.
6. Melakukan konfirmasi: guru mengakhiri kegiatan diskusi dengan memberikan penguatan, serta mengarahkan siswa pada konsep materi yang benar. Jadi, siswa mengakhiri proses pembelajaran dengan konsep yang sama dan pengalaman belajar yang sama.
Itulah beberapa cara yang bisa dilakukan guru untuk mendesain atau merancang pembelajaran kolaboratif di kelas. Untuk menerapkan model pembelajaran satu ini, ternyata banyak jenis strategi yang bisa digunakan. Ada pembelajaran Jigsaw, Project Based Learning, Number Head Together, dan lain sebagainya. Nah, berbagai jenis pembelajaran tersebut, mengajak siswa untuk saling bekerja sama untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau mencari solusi. Sehingga, proses pembelajaran ini mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.
Bagaimana pembahasan kali ini, teman-teman? Semoga apa yang kita bahas sama-sama kali ini, bisa menambah pengetahuan kita tentang pembelajaran kolaboratif ya?
Cukup sekian pembahasan kali ini, terima kasih atas waktunya.
Waassalaamu'alaikum Wr. Wb.
Comments
Post a Comment